Cara Penularan Virus SARS-CoV-2

Setelah dijelaskan virus penyebab COVID-19, sekarang kita akan membahas bagaimana cara penularan virus tersebut. Penularan SARS-CoV-2 antarmanusia berlangsung melalui butir atau percikan cairan (droplet) yang keluar melalui saluran pernapasan mulut dan hidung. Virus ini selanjutnya menginfeksi paru-paru. Penularan bisa terjadi melalui kontak secara langsung maupun tidak langsung. Bila seseorang berada dalam jarak kurang dari satu meter dengan pengidap COVID-19 yang menunjukkan gejala pernapasan, seperti bersin, batuk, atau pilek, ia berisiko untuk terpapar droplet yang infektif dan tertular melalui jalan napas atau selaput lendir mata (conyuctiva). Risiko penularan juga bisa terjadi melalui barang-barang terinfeksi (fomites), seperti pakaian, alat makan, seprai dan selimut, perabot rumah tangga, dsb., yang digunakan bersama penderita.

Penularan COVID-19 bisa terjadi melalui udara (airborne transmission) pada ruang tindakan khusus, ruang perawatan, atau alat-alat perawatan pasien di rumah sakit atau tempat perawatan lainnya, seperti stetoskop, termometer, intubasi indotrakeal (endotracheal tube), pengisap lendir, nebulizer, ventilator, dsb. Penularan lewat udara biasanya terjadi apabila virus yang terkandung pada droplet inti (nuclei) yang berukuran sangat kecil (kurang dari lima mikrometer) berada cukup lama di udara sehingga bisa tersebar. Virus ditemukan setelah dilakukan penyemburan aerosol: selama tiga jam di udara, empat jam di atas permukaan tembaga, 24 jam di atas karton, dua–tiga hari di atas permukaan baja tahan karat dan plastik (van Doremalen et al. 2020).

Semua virus korona memiliki gen khusus yang mampu mengenali protein yang diperlukannya guna memperbanyak diri untuk replikasi virus dengan pembentukan cangkang (nucleocapsid) dan paku-pakunya (Cyranoski 2020). Paku glikoprotein di permukaan luar berperan untuk memasuki sel tuan rumah dan melepaskan poliprotein, nukleoprotein, dan membran protein. Receptor-binding domain (RBD)4 menempel longgar di antara virus, karena itu virus bisa menginfeksi beberapa hewan inangnya. Virus SARS-CoV-2 membutuhkan enzim pengubah angiotensin (angiotensin converting enzyme 2 [ACE2]) sebagai suatu reseptor kunci. Mekanisme masuknya virus korona bergantung pada tiga hal: protease sel yang menyerupai human airway trypsin (HAT), katepsin (cathepsin), dan transmembrane protease serine 2 (TMPRSS2),5 yang memotong protein paku dan berubah menyesuaikan diri agar bisa menembus masuk ke organ hewan inang.

Kasus yang Tidak Terdokumentasi

Bagaimana penyakit COVID-19 bisa menyebar ke seluruh dunia dalam tiga hingga empat bulan saja? Lee et al. (2020) menggunakan berbagai sumber untuk mengetahui infeksi awal yang tidak terdeteksi serta kontribusinya untuk penyebaran virus. Dengan menggunakan data dari Tencent, salah satu perusahaan media sosial dan teknologi terbesar di dunia yang berbasis di Tiongkok, mereka menganalisis awal penularan COVID-19 di Tiongkok menggunakan model jaringan dinamis, yaitu metapopulasi dengan inferensi Bayesian. Mereka melaporkan penularan SARS-CoV-2 dari kasus-kasus yang tidak terdokumentasi. Mereka memperkirakan, sejumlah 86% kasus tidak terdokumentasi sebelum pembatasan perjalanan diberlakukan di Tiongkok. Pada waktu kebijakan pembatasan perjalanan dan isolasi pribadi diberlakukan, infeksi yang tidak tercatat lebih banyak dari dari kasus yang diketahui. Karena jumlahnya yang begitu banyak, infeksi dari mereka yang tidak terdokumentasi menjadi sumber dari 79% kasus terdokumentasi. Ini menjelaskan kecepatan penularan virus SARS-CoV-2 secara geografis dan memberi indikasi betapa pentingnya pencegahan penularan itu.

Bagaimana Orang Asimtomatik Bisa Menularkan?

Istilah orang asimtomatik mengacu pada pengidap virus yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi. Dibandingkan dengan kebanyakan infeksi virus, SARS-CoV-2 memproduksi jumlah partikel virus yang luar biasa banyaknya di dalan saluran pernapasan atas, utamanya hidung dan mulut. Adanya partikel virus yang keluar ke lingkungan disebut pelepasan virus. Oleh karena itu, orang asimtomatik yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 bisa menjadi agen penyebar yang sangat mangkus.

Ada dua penelitian COVID-19 yang menjelaskan bagaimana orang asimtomatik bisa menularkan virus korona:

  1. Penelitian dari Korea Selatan, dimuat di JAMA Internal Medicine, memeriksa 303 penderita berusia 22–36 tahun yang diambil dari balai pengobatan di Cheonan, Korea Selatan (Lee et al. 2020). Dari 303 orang, 110 merupakan kasus asimtomatik sebelum mengisolasi diri. Namun, 21 orang (19%) ternyata ke mudian menderita sakit. Jadi, mereka merupakan kasus presimtomatik yang memunculkan gejala COVID-19 antara hari ke-13 hingga ke-20 setelah mulai isolasi. Di antara sisanya, yakni 89 orang di antara 110 pasien asimtomatik, tidak memunculkan gejala sepanjang proses tindak lanjut pada hari ke-20 hingga ke-26, sesuai dengan kerangka waktu peneliti. Namun, peneliti menemukan bahwa pasien asimtomatik memiliki jumlah virus yang besar pada hidung, tenggorokan, dan paru-paru, sama banyaknya dengan kasus simtomatik. Peneliti juga menemukan bahwa pasien asimtomatik membawa virus dalam jangka waktu yang hampir sama dengan kasus simtomatik. Setelah dites, hampir 34% di antara kasus asimtomatik menunjukkan hasil negatif setelah 14 hari dan bertambah menjadi 75% setelah 21 hari. Sedangkan di antara yang simtomatik, 29,6% negatif setelah 14 hari dan 70% negatif setelah 21 hari.
  2. Penelitian lain tentang kasus asimtomatik adalah studi yang dilaksanakan di Richard M. Fairbanks School of Public Health, Indiana University, Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Nir Menachemi (Menachemi et al. 2020). Peneliti memberikan dua tes pada lebih dari 4.600 orang di negara bagian Indiana, Amerika Serikat. Kedua tes tersebut dimaksudkan untuk mengetahui: A) apakah orang tersebut sedang terinfeksi virus? dan B) apakah darah yang bersangkutan mengandung antibodi? Adanya antibodi dalam darah berarti bahwa orang tersebut pernah terinfeksi. Hasil awal menunjukkan bahwa ada 1,7% dari total populasi riset yang positif mengandung virus dan 1,1% positif antibodi. Artinya, ada 2,8% atau 186.000 orang penduduk Indiana sedang atau pernah terinfeksi virus ini. Sementara, pemerintah negara bagian hanya merekam 17.000 kasus kumulatif. Hal itu memperlihatkan bahwa pengadaan tes selama ini hanya menemukan satu di antara sebelas penduduk yang terinfeksi, yang diperiksa atas dasar gejala serta orang-orang berisiko tinggi. Hasil penelitian juga menemukan sebanyak 45% orang yang hasil tesnya positif ternyata tidak menunjukkan gejala sama sekali. Padahal angka kematian (case fatality rate [CFR]) sebesar 0,58%. Studi ini merupakan contoh untuk mendorong pencarian kasus asimtomatik di tengah masyarakat.

Penelitian ini diangkat oleh kantor Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Belum pernah ada negara bagian di Amerika Serikat yang melaksanakan suatu studi dengan sampel acak untuk menentukan berapa prevalensi (jumlah kasus penyakit pada waktu dan tempat tertentu) infeksi SARS-CoV-2 pada suatu waktu.
  • Laporan ini menambahkan bahwa dalam suatu sampel acak di kalangan penduduk Indiana berusia di atas dua belas tahun, perkiraan prevalensi dari infeksi SARS-CoV-2 pada akhir April 2020 sebesar 2,79%. Di antara orangorang dengan kasus infeksi aktif, terdapat sejumlah 44% yang tidak menunjukkan gejala.
  • Implikasi terhadap kesehatan masyarakat: jumlah kasus terlapor mewakili satu di antara sepuluh infeksi. Karena banyak penduduk Indiana yang rentan, kepatuhan untuk melakukan langkah-langkah pengendalian—seperti menjaga jarak, menggunakan masker secara benar dan konsisten, serta mencuci tangan—dibutuhkan untuk mencegah penularan dan menurunkan angka kematian akibat COVID-19.

Peneliti menemukan bahwa orang-orang asimtomatik bisa saja melepaskan virus dengan kecepatan yang sangat tinggi, mirip dengan flu musiman. Bedanya, penderita flu baru mengeluarkan virus bila mereka telah menunjukkan gejala. Lokasi dari pelepasan virus juga penting. SARS-CoV (virus yang menyebabkan epidemi SARS pada 2003) tidak banyak melepaskan virus dari hidung dan mulut. Virus ini mereplikasi di bagian dalam paru-paru. Karena virus SARS-CoV-2 ada dalam jumlah besar di mulut dan hidung, maka virus ini lebih mudah lepas ke lingkungan. Apabila orang berbicara atau batuk, tanpa mengenakan masker, mereka mengeluaran droplet ludah dan lendir ke udara. Dengan pelepasan droplet tersebut, orang asimtomatik tetap dapat menyebarkan virus dan menulari orang lain.

Bila setengah dari jumlah penderita adalah orang asimtomatik dan mereka bisa menularkan virus sama seperti orang yang simtomatik, bisa diasumsikan bahwa persentase cukup besar penularan datang dari orang orang asimtomatik. Inilah yang menyebabkan penyebaran virus SARS-CoV-2 ini bisa demikian cepat.

ِArtikel ini disadur dari buku “Memahami Krisis dan Kemelut Pandemi COVID-19” karya Noer Fauzi Rahman dan Ilsa Nelwan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.