Cerita Perjuangan Pemain Sepak Bola Melawan Virus Corona

Tulisan ini telah diposting di situs Anak Bola pada 4 Februari 2021

Sejak kali pertama wabah virus Corona atau COVID-19 diketahui oleh seorang dokter muda di Wuhan bernama Li Wenliang pada akhir tahun 2019. Hingga kini penyebarannya sangat cepat dan menjangkau luas ke beberapa negara, tidak terkecuali di Indonesia.

Mulai dari kasus pertama yang tercatat sampai dengan per 23 Januari 2021 jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di tanah air mencapai 977.474 kasus yang tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Sedangkan kumulatif pasien meninggal berjumlah 27.664 kasus atau persentasenya di angka 2,8% dari pasien terkonfirmasi.

Beberapa hari lalu, misalnya striker Manchester City Sergio Aguero menyatakan dirinya terinfeksi COVID-19. Sebelumnya ada nama-nama pemain top dunia seperti Cristiano Ronaldo, Paul Pogba, David Silva dan Neymar Jr. Sementara pemain Liga 1 Indonesia yang sempat terpapar COVID-19 diantaranya, pemain Persib Wander Luiz, Andri Ibo dari Persik Kediri, hingga empat pemain Persebaya yang tidak disebutkan identitasnya.

Kenyataan tersebut membuktikan jika virus ini bisa menjangkiti siapa saja. Tanpa pandang bulu! Baik terhadap pemain sepak bola profesional, maupun pesepakbola amatir seperti Mubarok Khalid. Pemain sepak bola asal klub Tegal Parang Youth Club (TYC FC), Jakarta ini mengetahui dirinya positif COVID-19 tanpa gejala (OTG) pada tanggal 4 Januari 2021, sehari setelah melakukan Swab Test – PCR. Khalid mekalukan tes usap tersebut untuk persyaratan pemesanan tiket pesawat dalam rangka perjalanan dinas.

“Karena kebutuhan untuk pemesanan tiket pesawat dan long trip ke beberapa daerah. Saya diwajibkan PCR test oleh kantor. Saya lantas mengikuti PCR pada tanggal 3 Januari 2021. Sehari kemudian keluar hasil PCR-nya yang menyatakan bahwa saya positif terinfeksi COVID,” ujar Khalid. “Entah kenapa, perasaan saya berbeda pagi itu, feeling saya, sepertinya hasilnya positif. Dan benar saja, saya terkonfirmasi positif COVID-19 namun tanpa gejala atau biasa disebut OTG (orang tanpa gejala),” sambungnya.

Singkat cerita, Khalid pun harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Ia pun menuliskan kisahnya saat berjuang melawan virus Corona yang diberi judul “Catatan Mantan Pasien Covid Tanpa Gejala”. Melalui media tersebut Khalid membagi pengalamannya melakukan sejumlah prosedur atau tindakan pemulihan serta memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Menurut Khalid selama masa karantina, pasien tanpa gejala seperti dirinya hendaknya melakukan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, mengabari keluarga perihal hasil tes Swab PCR. Kedua, menghubungi ketua RT, ketua RW sekaligus ketua Satgas COVID-19 di wilayah setempat. Sehingga mendapat petunjuk mengenai hal apa saja yang harus dilakukan dan dibutuhkan.

Kemudian yang ketiga, mengirim pesan berantai atau broadcast yang isinya berupa informasikan tentang hasil tes Swab atau status sebagai OTG kepada kerabat dan kolega yang berinteraksi dengan pasien yang bersangkutan dalam kurun waktu 3-4 hari terakhir. Selain itu meminta para kerabat atau kolega tersebut memantau kesehatannya masing-masing.

Keempat, menyiapkan diri menjalani karantina dengan menyusun rencana serta menyusun kebutuhan dasar selama masa isolasi mandiri di rumah, setidaknya untuk 10 – 14 hari ke depan. Dalam daftar (list) kebutuhan dimaksud memuat:

  • Jenis obat-obatan, multi vitami, suplemen, madu, jeruk lemon, herbal (selama tidak ada alergi) tinggal disesuaikan saja kebutuhannya.
  • Kapas pembersih hidung dan obat kumur antiseptik.
  • Makanan dan minuman, seperti telur, air mineral, susu, buah-buahan, dan cemilan.
  • Handsanitizer dan cairan disinfektan.

Sementara ruang isolasi sebaiknya terpisah dari anggota keluarga lainnya. Begitupula dengan perlengkapan makan dan perlengkapan mandi harus diletakkan pada tempat khusus.

Khalid mengungkap jika ‘kehadiran’ keluarga dan sahabat berperan penting tatkala melewati masa karantina. “Selain doa dan dukungan moril, banyak dari mereka yang tahu kalau saya sedang isolasi mandiri di rumah, mengirim banyak logistik ke rumah. Mulai dari suplemen, susu, martabak manis, buah-buahan, bir pletok, cake, junk food, nasi, lauk-pauk siap saji, kopi giling, sampai salad buah. Akhirnya saya tak harus memasak makanan lainnya, kecuali air panas. Rejeki gak boleh ditolak, asal kita gak minta, itu sih prinsip saya,” tuturnya.

Terus, selama isolasi kita ngapain aja? “Itu sih terserah aja ya. Ada yang buat jadwal, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Kalau saya sih, gak sebegitunya. Dibuat se-enjoy mungkin, yang bikin mood kalian bagus aja yang dikerjain, jangan maksa diri biar gak stres karena kita lagi lawan makhluk yang super kecil, biar kita gak kalah sama mereka!”

Menggunakan jurus aman, imun dan iman Khalid menambahkan dalam masa pemulihan secara teratur mengkonsumsi obat-obatan, vitamin maupun suplemen. Serta secara rutin berjemur dan berolahraga. Dan tidak melewatkan waktu untuk beribadah. Meski tidak selalu mengecek suhu tubuh dan kadar oksigen, Khalid menyarankan kepada pasien COVID-19 dengan gejala ringan untuk membuat dan mengisi tabel mengenai kondisi kesehatan selama masa karantina. Satu hal yang tidak boleh diabaikan selama proses karantina adalah keberadaan sampah. Dianjurkan sampah-sampah tersebut dibuang setelah pasien menyelesaikan isolasi mandiri, dengan terlebih dahulu menyemprot cairan disinfektan. “Inget ya guys! Jangan langsung kalian buang sampahnya pada saat masih masa karantina, emang gak kasian sama petugas kebersihan kalau sampai terpapar?” pesan Khalid.

Paska dinyatakan telah sembuh dari COVID-19. Hal pertama yang dilakukan Khalid ialah membersihkan seluruh ruangan di rumahnya, terutama tempat tidur dan dapur, tempat yang sering dikunjunginya. “Saya bahkan menyemprot seluruh bagian di rumah saya dengan cairan disinfektan,” ungkap Khalid. Lantas ia menyuci hingga bersih semua perlengkapan makan yang digunakan selama masa karantina.

Berpisah dengan keluarga selama pemulihan dari infeksi virus Corona, tentu menumbuhkan rasa rindu. Tentu perasaan yang demikian lumrah saja. Namun, rindu yang menggebu tak membuat Khalid segera bertemu dengan buah hati dan sang istri. Dia menyarankan kepada pasien COVID-19 untuk menunda 1-2 hari lagi paska hasil tes Swab PCR menyatakam yang bersangkutan telah negatif. Demi meyakinkan bahwa pasien sudah betul-betul sehat dan bersih dari virus Corona, sehingga siap kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.

“Tapi kalau kalian ada rejeki, bisa juga tuh menginap di hotel untuk ganti suasana istirahat atau sekedar jalan-jalan keliling kota,” saran Khalid. Selanjutnya beri kabar kepada kerabat, sahabat dan kolega bahwa kita telah dinyatakan negatif dari COVID-19 dan dalam keadaan sehat. Sehingga tidak ada ketakutan pada diri mereka untuk berjumpa dengan kita.

Khalid pun menghimbau kepada pasien yang sembuh (penyintas) dari COVID-19, seperti yang dilakukannya untuk mendonorkan plasma darah konvalesen ke PMI. Donor plasma darah tersebut bisa dilakukan 10-14 hari paska dinyatakan negatif. Pastikan pula bahwa tidak lagi ada gejala COVID-19 seperti deman, batuk, dan sesak nafas.

Adapun syarat-syarat lainnya, pendonor berusia antara umur 18 hingga 60 tahun dengan berat badan minimal 55 kilogram. Bagi pendonor perempuan, hanya diperbolehkan bagi yang belum pernah hamil. Terakhir, syarat yang harus dipenuhi bagi penyintas yang ingin mendonorkan plasma darah konvalesen COVID-19 tidak memiliki riwayat penyakit berat, seperti gagal ginjal, jantung, kanker, kencing manis dan darah tinggi tidak terkontrol).

Leave a Comment

Your email address will not be published.