Indonesian Key Ideas for Future Indonesia (IKIFI)

Curatorial Statement No.1

Bias Kognitif, Enclave Algorithm, dan Perilaku Budaya Layar di Ruang Virtual

Kurator : Noer Fauzi Rachman
Key idea : bahayanya enclave algorithm dan bias kognitif di ruang virtual
Key person : Merlina Lim
Narasumber : Semmy Pangerapan, Radjawali, …..

Source: Merlina Lim (2020) “Algorithmic Enclave”https://merlyna.org/2020/10/09/publication-algorithmic-enclaves/ (last download 15 Agustus 2022)

Merlina Lim telah membuat kontribusi yang hebat yang dalam studi mengenai hubungan saling membentuk antara teknologi dan masyarakat, dengan budaya politik yang digerakan oleh teknologi, khususnya teknologi informasi dan media digital, dalam hubungannya dnegan keadilan sosial, demokrasi dan partisipasi warga. Tema ini mempertemukan berbagai bidang studi menjadi kerja intelektualnya yang memiliki relevansi sosial, kebudayaan, teknologi, kebijakan hingga pengaturan baru. Ketekunannya menekuni bidang ini ditunjukkan melalui disertasinya “@rchipelago online: The Internet and Political Activism in Indonesia” (2005) hingga bab buku yang berjudul “Algorithmic enclaves: Affective politics and algorithms in the neoliberal social media landscape”, hingga saat ini mengajar sebagai associate profesor bidang Komunikasi di Carleton University. Merlina Lim memperoleh berbagai penghargaan, pengakuan dan posisi, termasuk terakhir  Canada Research Chair dalam bidang media digital dan masyarakat global (Digital Media and Global Network Society).  

Melina Lim, memulai penelitiannya bekenaan dengan bagaimana aktivisme politik Indonesia bekerja dengan dan melalui internet, lalu lanjut dengan melihat bagaiamana pembelahan kelompok politik ikut dibentuk oleh sesuatu mesin penyedia informasi di media sosial yang bekerja secara algoritmik. Konsep Algorithmic enclaves ini dibuatnya untuk bisa mengerti adanya suatu ruang baru yang tertutup dimana pengetahuan, sikap mental dan perilaku orang per orang dibentuk secara terus menerus oleh arus informasi yang dipasok oleh algoritma dalam media sosial, dan pembentukan identitas dan aksi kolektif dalam memobilisasi kekuatan menghadapi ancaman nyata maupun imajinatif dari yang dipersepsi sebagai musuh bersama. Konsep Algorithmic enclaves ini sungguh penting dan  menarik untuk dikombinasi dengan yang disebut sebagai Dunnning-Krueger effect, yakni suatu bias kognitif di mana orang-orang dengan pengetahuan atau kompetensi intelektual atau sosial terbatas melebih-lebihkan pengetahuan atau kompetensi mereka sendiri sedemikian rupa dibandingkan dengan kenyataan objektifnya maupun berbading dengan spengetahuan dan kompetensi mereka yang tergolong sejenis. 

Kita sedang mengalami bagaimana kombinasi dari kedua komponen ini menjadi pembentuk perilaku patologis dan membahayakan dalam situasi politik pemilu atau Pandemi COVID-19 ini.  Bagaimana kita memahami kedua sutuasi yang berjalin kerkelindas sekarang ini?  Pemikiran baru perlu diartikulasikan untuk membantu memahami situasi baik melalui percakapan dalam pertunjukan, untuk memperluas percakapan gagasan melalu publikasi artikel di surat kabar, maupun suatu drafting usulan kebijakan (policy brief) yang layak diajukan.

Sumber bacaan utama:

Website:

https://carleton.ca/sjc/profile/lim-merlyna/

https://merlyna.org/

Dunning, D. (2011). The Dunning-Kruger effect: On being ignorant of one’s own ignorance. In J. M. Olson & M. P. Zanna (Eds.), Advances in experimental social psychology. Advances in experimental social psychology,  44:247–296). Academic Press

 Lim, Merlina. (2005) “@rchipelago online: The Internet and Political Activism in Indonesia” Dissertation at Technology and Sustainable Development Group, School of Business and Administration Technology, University of Twente, Enschede, the Netherlands. https://ris.utwente.nl/ws/portalfiles/portal/6071353/Lim_thesis.pdf

_____  2014. Seeing Spatially: People, Networks and Movements in Digital and Urban Spaces, International Development Planning Review, 36(1): 51–72. _____ (2020). “Algorithmic enclaves: Affective politics and algorithms in the neoliberal social media landscape”. In M. Boler & E. Davis (eds.), Affective Politics of Digital Media: Propaganda by Other Means (pp. 186-203). New York & London: Routledge.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *