Kemelut Sebagai Penanda Zaman

Memahami Krisis dan Kemelut Covid-19
  • Judul: Memahami Krisis dan Kemelut Pandemi COVID-19
  • Penulis: Noer Fauzi Rachman, Ph. D & Ilsa Nelwan, dr, MPH, 2021
  • Penyunting: Achmad Choirudin dan Devananta Rafiq
  • 326 halaman, 14cm x 20cm
  • Penerbit: Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi
  • ISBN: 978-602-6477-79-8

Pandemi COVID-19 dan tetek-bengek yang terkait dengannya seakan-akan menjadi manifestasi atas perkembangan teknologi dan cepatnya persebaran informasi (baik fakta dan disinformasi). Sebagai sebuah fenomena yang terasa baru bagi masyarakat, yang meski telah diperkirakan dan terjadi berulang kali dalam sejarah modern, pandemi ini menjadi menarik oleh karena hadirnya kemelut tambahan dalam periode keterbukaan informasi ini, yang juga sekaligus menjadi katalis dalam lahirnya intelektualisme, dan secara bertolak-belakang, sikap antisains di masyarakat. Buku yang ditulis dengan basis bukti ini adalah produk baik dari yang pertama.

Umum Namun Spesifik

Dalam kerangkanya yang ditujukan bagi awam dan semua golongan, buku ini disusun oleh kombinasi kacamata aktivis lingkungan dan praktisi kesehatan masyarakat dengan harapan dapat menyentuh sebanyak-banyaknya orang, namun tidak lepas dari landasan fakta, catatan kejadian, dan komunikasi sains yang baik. Bagi praktisi kesehatan, bahasan mengenai patofisiologi dasar, konsep dasar virologi dan profil virus SARS-COV-2, pendekatan kesehatan masyarakat dalam pandemi, epidemiologi, dan manifestasi klinis COVID-19 tidaklah asing. Tetapi, elaborasi dalam bagian awal dapat mengurai dengan baik sekaligus memberikan penyegaran pengetahuan baik untuk masyarakat umum dan praktisi kesehatan. Di dalamnya pun, tidak kurang bahasan terkait sejarah pandemi lainnya, tatalaksana penyakit, konsep zoonosis, etiologi, analisis perkembangan jumlah kasus, hingga anekdot nomenklatur “social distancing” menjadi “physical distancing” dan senggolan kecil tentang COVID-19 sebagai pemicu pendorongan perubahan budaya.

Hal yang menarik adalah ketika pembahasan komprehensif dan berbasis bukti yang diurai buku ini seakan berhenti di tengah jalan, selaras dengan perjalanan pandemi yang notabene memang masih setengah jalan pula. Tidak terangkatnya bahasan terkait varian virus, implementasi program vaksinasi, dampak ekonomi, hingga lakon kasus yang seperti berkolerasi dengan hari raya, perubahan gaya hidup setelah lockdown, serta segala polemik terkait hal-hal tersebut tidak serta-merta menjadi kekurangan, melainkan menjadi catatan penanda zaman dan pengejawantahan kondisi aktual. Hal-hal yang tidak terbahas menjadi subteks yang jelas dalam kondisi pandemi di era informasi yang sangat dinamis.

Kemelut, Pembentukan Wabah, dan Sikap

Memahami kemelut adalah juga tentang memahami awal kisah dan akar masalah dari kemelut tersebut. Dan dalam membahas pagebluk, terutama COVID-19, bahasannya tidak akan lepas dari eksploitasi lingkungan hidup, masalah peternakan industrial, dan overkonsumsi. Asal-usul COVID-19 dari hewan atau transmisi dari wet market seakan telah menjadi postulat yang juga didukung oleh prasangka dari kejadian-kejadian pandemik sebelumnya. Terlepas dari kemungkinan dan tidak terangkatnya hipotesis bahwa COVID-19 merupakan kejadian lab-leak, kajian krisis ekosistem dan kaitannya dengan pembentukan wabah adalah pesan yang tidak bisa diabaikan dalam menyikapi pandemi ini.

Namun, pesan tersebut perlu dengan hati-hati pula, mengingat eko-fasisme yang samar, hadir ketika dunia mengalami karantina. Bahwa penurunan emisi karbon pada tahun 2020, pengurangan polusi udara akibat aktivitas yang berkurang, dan kembalinya beberapa satwa liar ke perkotaan akibat manusia yang mengunci diri di rumah, akan dengan mudah memicu konklusi bahwa manusia adalah penyakit bagi bumi dan biodiversitas, ditambah dengan perspektif bahwa COVID-19 muncul akibat eksploitasi dan pertumbuhan ekonomi tanpa ujung. Melalui perspektif sejarah, krisis struktural, dan mobilitas manusia, kajian ini mengajak untuk merefleksikan diri sekaligus membuat konklusi yang lebih positif terhadap kemelut pagebluk.

Di samping analisisnya yang tajam dan reflektif terkait sejarah manusia, buku ini menggambarkan suatu sikap yang positif, meski tidak eksplisit; yang kemudian , dikontraskan oleh sentilan halus melalui catatan terkait pemangku kebijakan, pemerintah, hingga badan-badan prestisius dunia yang “nyeleneh”, terkesan kurang tepat, dan tidak optimal, dibumbui kontroversi akibat sokongan terlalu banyak dana. Meski kemelut tercipta dari ketidaksiapan yang dibumbui dengan infodemik, bias kognitif, dan simplifikasi terhadap situasi, kegagalan—dan mungkin juga kesuksesan—dalam menghadapi pagebluk didasari oleh kemampuan manusia dalam menghadapi musuh yang tidak terlihat. Mirip dengan sikap mitigasi dalam perubahan iklim dan krisis lingkungan, secara alamiah manusia menghindari kegelisahan dan atau menyepelekan bahaya yang tidak kasat mata.

Menyadari hal tersebut, akan membuat pemahaman dan sikap dalam menghadapi pandemi menjadi lebih baik, yang dalam konteks ini termasuk respon kedaruratan, pengaturan rasa takut dan khawatir, serta kebijaksanaan dalam melihat sejarah dan manajemen risiko. Menyikapi pandemi yang memengaruhi semua aspek kehidupan ini baiknya dilakukan dengan kepala jernih, rencana yang jelas, dan merangkum serta mengkajinya melalui fakta dan berbagai sudut pandang selayaknya yang dilakukan penulis dan penyusun. Misinformasi, cacat logika, masalah psikologi, kerentanan serta ketimpangan sosial dan ekologi sepatutnya dibuang jauh meski COVID-19 nampak masih akan hidup berdampingan dengan manusia hingga beberapa waktu.

Tulisan ini ditulis oleh Kafi Khaibar Lubis dan dimuat dalam surat kabar Pikiran Rakyat 12/02/2022.

Percakapan resensi buku ini bisa dilihat dalam video berikut:

Bagian 1

Bagian 2

Leave a Comment

Your email address will not be published.